← Kembali ke Kajian Alkitab
MANA YANG LEBIH ALKITABIAH: LAGU ROHANI Jadul atau Kontemporer? MANA YANG LEBIH ALKITABIAH: LAGU ROHANI JADUL ATAU KONTEMPORER?
Oleh Dr. Yusak Itong S.,M.Th (Dosen STTII Jakarta, Pimpinan Yis Production, Instruktur musik.)

Ibadah gereja hampir selalu berkaitan dengan musik dan lagu. Baik menggunakan alat musik maupun tanpa alat musik, nyanyian tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Tuhan. Namun sepanjang sejarah gereja, selalu muncul perdebatan tentang liturgi, kemasan musik, serta jenis lagu yang layak dipakai dalam ibadah.
Perdebatan mengenai jenis musik dan lagu di gereja sering kali terjebak pada dikotomi "tradisional vs. kontemporer" atau "hymne vs. lagu pujian modern."
Ada yang berpendapat bahwa hymne lebih rohani dibanding lagu kontemporer. Sebaliknya, ada yang menganggap lagu kontemporer lebih relevan bagi generasi masa kini. Perdebatan tersebut tidak hanya menyangkut selera musik, tetapi juga melibatkan unsur budaya, psikologi, sejarah gereja, hingga teologi.
Namun, jika kita menyelami teks aslinya, Alkitab memberikan perspektif yang lebih luas daripada sekadar selera zaman atau budaya.
Karena itu, sebelum membahas genre musik, alat musik, atau gaya ibadah, penting untuk memahami terlebih dahulu hakikat musik dan lagu menurut Alkitab.
Kita akan mempertajam analisis teologis dan historisnya untuk melihat bagaimana Kolose 3:16 sebenarnya memberikan "peta jalan" bagi musik gereja yang sehat.

Musik Bersifat Universal
Musik (beda dengan lagu) sering dianggap universal karena dapat diterima oleh hampir semua budaya manusia. Nada, ritme, dan melodi mampu menyentuh emosi manusia lintas bahasa dan bangsa.

Dalam pengertian sederhana, lagu adalah lirik (syair) yang diberi notasi atau melodi.

Namun dalam kekristenan, persoalan utamanya bukan sekadar musiknya, melainkan isi dan tujuan lagu tersebut. Sebab lagu dalam ibadah bukan hanya hiburan, tetapi sarana pengajaran, penyembahan, dan pewartaan iman.

Karena itu, dasar utama penilaian lagu bukan pertama-tama apakah lagu itu kuno atau modern, melainkan apakah isinya selaras dengan firman Tuhan.

Musik dan Lagu dalam Ibadah: Menemukan Titik Temu di Kolose 3:16
“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” (bandingkan dengan surat kembar Paulus di Efesus 5:19).

1. Fondasi Utama: Perkataan Kristus
Sebelum membahas genre, Rasul Paulus menetapkan syarat mutlak dalam Kolose 3:16: "Hendaklah perkataan Kristus (Yunani : ὁ λόγος τοῦ Χριστοῦ - Ho logos tou Christou), diam dengan segala kekayaannya di antara kamu."

Menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 "perkataan Kristus" bisa berarti dua : Perkataan yang diucapkan oleh Kristus atau perkataan mengenai Kristus. Namun hampir semua penafsir setuju memaknai "perkataan Kristus" sebagai Firman Tuhan.

Dalam Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan dijelaskan “Perkataan Kristus (yaitu, Alkitab) harus selalu dibaca, dipelajari, direnungkan, dan didoakan sehingga diam di dalam kita dengan segala kekayaannya. Bila ini menjadi pengalaman kita, maka pikiran, perkataan, perbuatan, dan motivasi kita akan dipengaruhi dan dikuasai oleh Kristus.”

Bruce juga memaknai "perkataan Kristus" sebagai pengajaran Kristen yang tidak lain adalah perkataan Kristus sendiri. Dave Hagelberg dalam buku Tafsiran surat Kolose dari Bahasa Yunani nya menjelaskan maksud 'perkataan Kristus': “Orang-orang yang ‘memikirkan hal-hal yang di atas bukan yang di bumi’ tidak akan mengabaikan atau menolak bagian-bagian Alkitab yang tidak sejalan atau bertentangan dengan sikap dan gaya hidup mereka. Menurut ayat ini, pikiran, mulut dan hati orang-orang yang mencari : ‘hal-hal yang di atas, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah’ akan dipenuhi dengan firman Kristus.

Jadi perkataan Kristus yang dimaksud dalam Kolose 3:16 tersebut adalah firman Tuhan (sekarang sudah dibukukan dalam Alkitab) atau pengajaran kristen.
Ini berarti musik dan lagu bukan sekadar pengiring estetika, melainkan kendaraan bagi Kebenaran. Lagu ibadah yang baik bukan diukur dari tahun pembuatannya, melainkan dari sejauh mana liriknya mengandung doktrin yang sehat. Jika liriknya dangkal atau menyimpang secara teologis, maka musik tersebut kehilangan fungsinya sebagai sarana pengajaran.

2. Memahami Tipologi Lagu: Psalmos, Hymnos, dan Ode Pneumatikos
Paulus menyebutkan tiga kategori lagu yang menunjukkan bahwa gereja mula-mula adalah komunitas yang inklusif secara musikal: Mazmur (ψαλμοῖς – Psalmois/Psalmos/Psalm), Nyanyian Pujian (ὕμνοις – Hymnois/Hymnos/Hymne) dan Nyanyian Rohani (ᾠδαῖς ταῖς πνευματικαῖς - ōdais tais pneumatikais /Ode Pneumatikos).

(1)Mazmur (Psalmos) : Ini adalah warisan iman dari Perjanjian Lama.
Banyak penafsir setuju bahwa 'mazmur' yang dimaksud adalah mazmur yang dipakai oleh orang Yahudi dalam Perjanjian Lama, yang juga dipakai oleh Tuhan Yesus (Mat 26:30; Mrk 14:26). Mazmur merupakan suatu nyanyian atau syair pujian yang dilantunkan para nabi yang digunakan dalam ibadah di Bait Suci di Yerusalem atau upacara kerajaan Israel kuno. Warren W. Wiersbe dalam buku tafsiran Kolose mengatakan "Mazmur tentu nyanyian yang dari Perjanjian Lama." Rhoderick J. McNeill menguraikan : “Kitab Mazmur dari Perjanjian Lama yang selalu dinyanyikan dalam ibadah Yahudi dan lagu-lagu baru yang memuji Yesus dalam bentuk seperti Mazmur menjadi dasar liturgi yang dinyanyikan dalam ibadah Kristen yang awal.” Gerhard Friedrich juga mengartikan Mazmur atau sebagai buku yang dipakai dalam bagian lain dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk kepada Mazmur dalam Perjanjian Lama (Luk. 20:42; 24:44; Kis. 1:20; 13:33).

Bob Sorge dalam buku Mengungkap Segi Pujian & Penyembahan juga mengartikan senada dengan hal tersebut :
“Tidak diragukan bahwa ketika Paulus menyebutkan mazmur, ia mengacu kepada nyanyian yang melantunkan isi Kitab Suci. Kitab Mazmur memang merupakan sebagian besar “kidung pujian” yang Tuhan Yesus pakai karena mazmur adalah songbook orang Yahudi dan gereja mula-mulapun memakainya. Namun tentu ada juga bagian-bagian dari kitab-kitab lain yang digunakan, seperti Yesaya, Pentateukh, dan sebagainya. Kita menyanyikan “mazmur” pada masa kini – ayat Alkitab digubah ke dalam lagu-lagu kontemporer.”

H.A. Van Dop menjelaskan corak musik dalam mazmur seperti apa :
Mazmur merupakan nyanyian tertua dan utama dalam sejarah peradaban musik umat Tuhan. Secara harafiah Mazmur artinya : puji- pujian orang Israel; lebih lengkapnya lagi, Mazmur atau mizmour (kata: Ibrani) dan psalmody (kata: Yunani) memberi arti yang sama yaitu nyanyian puji-pujian orang Israel yang dibawakan dengan iringan alat musik. Bentuk penulisan syairnya mengikuti kaidah sastra Ibrani, berbentuk asimetrik, tema umum: kematian dan kelahiran kembali, ucapan syukur. Inti pengajarannya: percaya dan bersandar kepada Allah yang hidup, yang mendengar, dan yang menjawab doa umat-Nya. lazimnya dinyanyikan secara unisono (satu suara) dengan gaya responsorial - antiphonal - litanical. Ciri musikalnya: nada-nada kurang melodis, tidak memakai harmoni, notasi tidak memiliki garis birama, dan jumlah suku kata setiap baris tidak sama3. Meskipun Mazmur bukan hanya yang 150 nomor dalam Alkitab, melainkan setiap pernyataan puji-pujian yang agung dan mulia yang tercatat dalam seluruh kitab Perjanjian Lama, tetapi memang dari semula Mazmur yang diperuntukkan sebagai nyanyian umat, dan kemudian dalam penggunaannya dinyatakan sebagai nyanyian gereja yang dianggap sangat oukumenis dan membumi dari masa Alkitab hingga masa kini.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Mazmur dalam Kolose 3:16 adalah nyanyian Kristen yang mengikuti model kitab Mazmur dalam Perjanjian Lama, yang adalah buku doa dan buku nyanyian orang Israel yang sarat dengan muatan teologia.

Menggunakan Mazmur berarti menjaga kontinuitas sejarah keselamatan. Meskipun dianggap "jadul" secara usia, Mazmur adalah napas doa umat Allah sepanjang masa.

Kenapa dianggap lagu jadul oleh Gereja mula-mula, karena lagu-lagu ini ditulis oleh tokoh-tokoh Perjanjian Lama, seperti: Daud, Asaf, Salomo, Musa, bani Korah, Heman, Etan (Yedutun). Dan ditulisnya ribuan tahun yang lalu, tepatnya 1400 SM (oleh Musa) hingga sekitar 400 SM (setelah masa pembuangan). Dalam istilah modern, mungkin bisa disebut lagu “tradisional”. Namun menariknya, gereja mula-mula tetap memakai mazmur dalam ibadah mereka.

(2) Hymnos (Nyanyian Pujian atau ‘Kidung Puji-pujian’ dalam Efesus 5:19)
Warren W. Wiersbe hanya membedakan Kidung Pujian dengan Mazmur : "Puji-pujian adalah nyanyian pujian bagi Allah yang ditulis orang-orang percaya yang tidak diambil dari kitab Mazmur." Ralph Martin pun sependapat, namun tidak menjelaskan detail perbedaaannya. Walaupun sebagian para teolog mendapatkan kesulitan membedakan antara jenis nyanyian Kidung Pujian (humnos) dengan Nyanyian Rohani (ode pneumatikos) ,karena tidak adanya peninggalan suatu tradisi notasi musik yang tertulis, namun pada konteks gereja mula-mula, ini adalah lagu-lagu baru, yang lahir dari pengalaman iman jemaat mula-mula akan karya Kristus, memperjelas identitas mereka sebagai orang Kristen.

Mike dan Viv Hibert mengartikan bahwa Kidung pujian merupakan lagu-lagu dengan lirik berisikan doktrin Kristiani : “Dalam kaitannya dengan yang Rasul Paulus maksud dalam Kolose 3:16, hymne merupakan lagu gubahan dari Perjanjian Baru...setiap lagu yang di dalamnya mengandung pesan Kristus dan prinsip-prinsip Perjanjian Baru.”

Demikian Mike dan Viv Hibert menjelaskan lebih detail : "Puji-pujian (dalam Kolose 3:16 bnd Ef 5:19 Kidung Pujian) yang dalam bahasa Yunani ‘humnois’ (dalam bahasa Inggris ‘hymn’) yaitu merayakan, memperingati yang dipersembahkan kepada Allah, dewa, pahlawan atau orang-orang besar. Dalam kaitannya dengan yang Rasul Paulus maksud, hymne merupakan lagu gubahan dari Perjanjian Baru. Bukan berarti lagu-lagu yang kita miliki sekarang ini saja (Paulus tak mengenal Isaac Watts atau Wesley), melainkan setiap lagu yang di dalamnya mengandung pesan Kristus dan prinsip-prinsip Perjanjian Baru."

Sehingga, bagi gereja mula-mula, ‘Kidung Pujian’ dianggap sebagai lagu “kontemporer” (lagu bergaya kekinian) dibandingkan dengan Mazmur (lagu tradisioanl umat Israel).
Jadi perbedaan Mazmur dan Kidung Puji-pujian adalah dari pengarang dan kapan lagu tersebut dibuat. Mazmur dikarang oleh para pemusik dalam Perjanjian Lama, sedangkan Kidung Pujian dibuat oleh jemaat gereja mula-mula di masa Perjanjian Baru.

(3) Ode Pneumatikos (Nyanyian Rohani): Istilah ini sering diterjemahkan “nyanyian rohani”, akan dikupas dalam topik tersendiri.

Kesimpulan Sementara: Gereja mula-mula tidak memilih salah satu, mereka menggunakan ketiganya. Mereka tidak mempertentangkan yang kuno (Mazmur) dengan yang baru (Kidung Pujian). Jemaat di Kolose kemungkinan memakai kedua jenis lagu tersebut secara bersama-sama. Bahkan gereja-gereja lain di Asia Kecil mungkin melakukan hal yang sama.
Artinya, yang diterima gereja mula-mula bukan persoalan: kuno atau modern, tradisional atau kontemporer, lama atau baru, melainkan:
- Kesesuaian isi dengan Firman Tuhan
- Kebenaran ajaran teologisnya
- Dampaknya bagi pertumbuhan iman umat

3. Perdebatan Lirik adalah Perdebatan Teologis
Seringkali, ketika kita berdebat tentang lagu, kita sebenarnya sedang berdebat tentang Doktrin, bukanlah pada genre music, tempo musik, jenis alat musik, atau selera generasi, tetapi kepada: isi pengajaran, dan tujuan rohani lagu tersebut.

Dengan demikian, pusat evaluasi lagu gereja seharusnya: apakah lagunya Alkitabiah atau tidak .
Dan harus disadari bahwa setiap gereja memiliki pemahaman teologis masing-masing : tentang keselamatan, karya Roh Kudus, eskatologi, atau kehidupan Kristen, yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu, sehingga bersifat subyektif.

Menurut penulis dari kajian Alkitab ini, kesatuan jemaat jauh lebih penting daripada keseragaman genre. Jika gereja di Asia Kecil bisa menggabungkan tradisi Yahudi (Mazmur) dengan iman Kristen baru (Hymnos), maka gereja masa kini pun seharusnya bisa merayakan kekayaan musik dari berbagai zaman.
Topik yang lain akan dikupas, adalah “Apakah ada musik kristen yang duniawi/sekuler dan musik Kristen seperti musik setan ?” (Yis/120526).
Daftar Kuliah