Webmail |  Berita |  Agenda |  Pengumuman |  Artikel |  Video
Slot Gacor Terpercaya Slot Gacor Slot Deposit Pulsa Tanpa Potongan Slot Deposit Pulsa Slot Online

INSPIRASI DAN KRITIK TEKS

03 Maret 2021
13:49:02 WIB

Inspirasi dan Kritik Teks
(The Chicago Statement on Biblical Inerrancy)
Dr. Philip Suciadi Chia, D. Th., Ph. D

 

Pendahuluan

Mengapa kita membutuhkan textual criticism (TC)? Ini merupakan pertanyaan yang sering diajukan oleh kaum akademisi Injili dan juga kaum awam. Pertanyaan ini muncul dikarenakan populernya kelirunya pandangan ‘Alkitab’ kita tidak mengandung kesalahan sama sekali atau bersifat inerrancy dan infallible yaitu pandangan yang mengemukakan bahwa tidak ada kesalahan sama sekali di dalam Alkitab baik dalam isi maupun pedoman kehidupan. Ada dua permasalahan umum dari pandangan tersebut. Permasalahan pertama dari pandangan tersebut ialah menganggap terjemahan Alkitab (seperti NIV, ESV dan lainnya) bersifat inerrancy dan infallible. Permasalahan kedua ialah kaum akademisi Injili dan juga kaum awam menganggap a critical edition text bahasa Ibrani seperti Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS) dan Biblia Hebraica Quinta (BHQ) dan bahasa Yunani The UBS Greek New Testament dan Novum Testamentum Graece: Nestle-Aland sebagai teks yang diinspirasikan. Oleh karena itu, tulisan singkat ini mencoba untuk membuktikan bahwa textual criticism (TC) dibutuhkan dalam mencari apa yang naskah asli Alkitab katakan, bukan a critical text ataupun terjemahanterjemahan Alkitab. The Chicago statement on Biblical Inerrancy akan digunakan untuk menelaah dua pandangan utama tersebut. 

 

Isi

The Chicago statement on Biblical Inerrancy Apakah kita masih memiliki naskah asli Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru? Kita sudah tidak lagi memiliki naskah asli tersebut. Akan tetapi, kita memiliki salinansalinan dari naskah asli Alkitab. Tulisan ini akan menggunakan argument dari the Chicago statement on Biblical Inerrancy. Apa itu the Chicago statement on Biblical Inerrancy? Pernyataan Chicago ini diformulasikan oleh lebih dari 200 tokoh Injili yang diadakan di Chicago pada tahun 1978 untuk mempertahankan posisi dari inerrancy dan infallible dan kemudian dianut oleh sekolah-sekolah teologi Injili di Amerika Serikat seperti the Southern Baptist Theological Seminary dan Dallas Theological Seminary. Secara singkat, Pernyataan Chicago memiliki 19 articles of affirmation and denial. Setelah itu, the Chicago statement on Biblical Inerrancy memiliki exposition dari setiap article tersebut. Tulisan ini tidak akan membahas keseluruhan artikel tersebut. Akan tetapi, memfokuskan pada article X dari menyatakan the Chicago statement on Biblical Inerrancy,

“We affirm that inspiration, strictly speaking, applies only to the autographic text of Scripture, which in the providence of God can be ascertained from available manuscripts with great accuracy. We further affirm that copies and translations of Scripture are the Word of God to the extent that they faithfully represent the original.

We deny that any essential element of the Christian faith is affected by the absence of the autographs. We further deny that this absence renders the assertion of Biblical inerrancy invalid or irrelevant.” 

Apa yang bisa kita simpulkan dari the Chicago statement on Biblical Inerrancy? Dari pengukuhan, pertama, inspirasi Alkitab hanya berlaku pada naskah pertama Alkitab. Kedua, secara implisit, article X menyatakan bahwa naskah-naskah yang ditulis langsung oleh para penulis Alkitab sudah tidak ada lagi. Ketiga, akan tetapi, karena providensia Allah, naskah tangan pertama tersebut dapat ditelusuri dengan pelbagai manuskrip (salinan-salinan) yang ada dengan akurasi yang tinggi. Keempat, semua salinan dan terjemahan Kitab Suci adalah Firman Allah sejauh mereka secara seksama mencerminkan naskah asli tersebut.

Dari penolakan, ada beberapa hal yang dapat dipelajari. Pertama, the Chicago statement on Biblical Inerrancy menolak faktor-faktor utama (esensial) dari iman Kristen dipengaruhi oleh absensi naskah pertama Alkitab. Kedua, the Chicago statement on Biblical Inerrancy menolak absensi ini menekankan Biblical Inerrancy menjadi tidak dapat dipertahankan atau tidak relevan.

Dengan demikian, the Chicago statement on Biblical Inerrancy secara singkat menyatakan bahwa naskah yang diinspirasikan ialah hanyalah naskah pertama Alkitab yang tidak dimiliki lagi pada masa kini. Meskipun naskah tersebut sudah tidak ada lagi, salinansalinan (atau pelbagai manuskrip) dan terjemahan-terjemahan Alkitab dapat diandalkan sejauh representasikan naskah asli Alkitab dengan tepat.

Hal ini membawa kepada pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertama, bagaimana kita dapat meyakini tidak ada kesalahan dalam proses penyalinan? Kedua, bagaimanakah para pembaca Alkitab dapat mengetahui manuskrip atau terjemahan Alkitab manakah yang mencerminkan naskah pertama? Bagaimanakah kita menyikapi terjemahan-terjemahan yang ada seperti Alkitab dalam bahasa Korea, Inggris, Indonesia dan sebagainya?

Dalam eksposisi ‘transmission and translation’, the Chicago statement on Biblical Inerrancy menyatakan,

“Since God has nowhere promised an inerrant transmission of Scripture, it is necessary to affirm that only the autographic text of the original documents was inspired and to maintain the need of the textual criticism as a means of detecting any slips that may have crept into the text in the course of its transmission. The verdict of this science, however, is that the Hebrew and Greek text appear to be amazingly well preserved, so that we amply justified in affirming, with the Westminster Confession, a singular providence of God in this matter and in declaring that the authority of Scripture is in no way jeopardized by the fact that the copies we possess are not entirely error-free.”

“Similarly, no translation is or can be perfect, and all translations are an additional step away from the autographa.”

Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari eksposisi ini. Pertama, the Chicago statement on Biblical Inerrancy menyatakan bahkan proses penyalinan Kitab Suci sama sekali tidak diinspirasikan. Dengan kata lain, baik proses penyalinan dan hasil salinan (pelbagai manuskrip yang ada) tidak luput dari kesalahan karena tidak diinspirasikan. Hanya naskah pertama yang ditulis oleh para penulis Alkitablah yang tidak memiliki kesalahan karena diinspirasikan. Ini merupakan jawaban dari pertanyaan pertama. 

Kedua, bagaimanakah para pembaca Alkitab dapat mengetahui manuskrip atau terjemahan Alkitab manakah yang mencerminkan naskah pertama? The Chicago statement on Biblical Inerrancy mengemukakan bahwa kritik teks (TC) memainkan peran penting di sini. Kritik teks (TC) bertugas untuk menganalisa seluruh salinan atau manuskrip yang ada supaya menemukan apa yang teks asli Alkitab sampaikan. Akan tetapi, harus diakui bahwa kritik teks ialah bidang yang tidak mudah. Pertama, para peneliti ini harus mengetahui beberapa bahasa seperti Ibrani, Yunani, Aramaic, Syriac, Latin, Armenian, Georgian, Arabic dan sebagainya. Kedua, pengetahuan akan bahasa-bahasa ini tidak cukup untuk menjadi kritik teks. Mereka harus memiliki pengalaman yang cukup dengan pelbagai manuskrip dalam bahasa-bahasa tersebut. Pengalaman ini akan memampukan mereka untuk menganalisa variants yang ada di dalam salinan-salinan tersebut. Mengapa terjadi variants? Apakah disengaja atau tidak disengaja? Apakah ada pengaruh karena menerjemahkan ke dalam bahasa lain? Apakah motivasi para penyalin ini di balik penyalinannya? Apakah ciri khas dari para penyalin atau penerjemah teksteks tersebut? Teknik penerjemahan apa yang dipakai penyalin? Bagaimana satu manuskrip mempengaruhi salinan-salinan lainnya? Bagaimana penyebarannya secara geography? dan seterusnya.

Realita ini mungkin melemahkan atau mematahkan semangat para pembaca dan pembelajar Alkitab. Tulisan ini menyajikan dua solusi yaitu secara konseptual maupun praktis. Secara konseptual, para pembelajar Alkitab harus memahami bahwa belajar Alkitab tidaklah semudah yang kita bayangkan. Sebagai pengikut Kristus, kita dituntut untuk mendedikasikan hidup untuk mengenal Allah lebih dalam lagi melalui bahasa-bahasa yang dipakai yaitu Ibrani dan Yunani. Dedikasi ini melibatkan komitmen, prioritas, disiplin bahkan pengorbanan. Selalu ada harga yang perlu dibayar untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Secara praktis, para pembelajar Alkitab dapat menggunakan informasi yang tersedia baik melalui internet maupun buku-buku. Para pembaca dapat menggunakan Hebrew and Greek critical text walaupun harus digunakan dengan seksama. Pada pembelajar dapat menggunakan program Alkitab untuk mengadakan penelitian mula-mula terhadap bahasa Ibrani dan Yunani. Kendati demikian, umat Tuhan di Indonesia hendaknya mendorong generasi muda untuk menekuni bidang kritik teks supaya dapat mengevaluasi setiap sumber-sumber yang ada termasuk Hebrew and Greek critical text.

Ketiga, bagaimanakah kita menyikapi terjemahan-terjemahan yang ada seperti Alkitab dalam bahasa Korea, Inggris, Indonesia dan sebagainya? The Chicago statement on Biblical Inerrancy menyampaikan bahwa terjemahan-terjemahan yang ada tidak ada yang sempurna bahkan satu langkah lebih jauh dari naskah aslinya. Kendati demikian, terjemahan-terjemahan ini dapat memberikan pengenalan dan pemahaman yang cukup bagi para pembacanya. Pemahaman yang lebih dalam tentunya akan dapat diperoleh melalui analisis dari bahasa-bahasa asli Alkitab: Ibrani dan Yunani.

Penutup

The Chicago statement on Biblical Inerrancy menjelaskan bahwa manuskrip-manuskrip dan terjemahan-terjemahan yang ada tidaklah bersifat inerrancy. Mereka harus ditelaah dengan cermat melalui bidang ilmu kritik teks (sebagai alat bantu) yang bertujuan menemukan kata-kata yang disampaikan oleh naskah awal atau yang ditulis pada para penulis mula-mula.

 

Daftar Pustaka

Aland, B. and Aland, K. (2016) The greek-english new testament : ubs 5th revised edition and new international version. Grand Rapids, Mich: Zondervan.

Elliott, J. K. (2010) New testament textual criticism : the application of thoroughgoing principles : essays on manuscripts and textual variation. Leiden: Brill (Supplements to Novum Testamentum, v. 137). doi: 10.1163/ej.9789004189522.i-664.

Hendel, R. S. (2016) Steps to a new edition of the hebrew bible. Atlanta: SBL Press (Textcritical studies, number 10).

L. Elliger and W. Rudolph, eds. Biblia Hebraica Stuttgartensia. Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1967/1977, 1997.

Trobisch, D. (2013) A user's guide to the nestle-aland 28 greek new testament. Atlanta: Society of Biblical Literature (Society of Biblical Literature text-critical studies, 9).

https://library.dts.edu/Pages/TL/Special/ICBI_1.pdf

Gambar hanya sebagai ilustrasi dan diambil dari https://rubrikbahasa.wordpress.com/2017/05/20/belajar-dari-bahasa-ibrani/ 

File Terbaru

Facebook Fanpage

TAUTAN EKSTERNAL