← Kembali ke Bijak Sehari-hari Menjadi Filsuf Diri Sendiri
MENJADI FILSUF BAGI DIRI SENDIRI

MENJADI FILSUF BAGI DIRI SENDIRI

oleh Dr.Imanuel Sukardi, M.Th (Ketua STTII Jakarta)

Semua Dimulai Dari Filosofi

Seseorang pernah berujar "saya tidak mau berfilsafat". Sebenarnya dia sedang berfilsafat, filsafatnya adalah "tidak mau berfilsafat". Tidak ada orang yang benar - benar tidak berfilsafat, hal itu hanya masalah kesadaran bukan masalah kenyataan bahwa ada orang yang tidak berfilosofi.

Baik Karl Popper, Paus Yohanes Paulus II maupun Epikuros mereka bertiga sepakat bahwa setiap orang adalah filsuf setidaknya bagi dirinya sendiri. Misalnya seseorang berpikir atau berkata bahwa harus memanfaatkan setiap kesempatan, sebenarnya itulah filosofinya. Filosofinya dia harus memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

Kita semua tahu bahwa kata " filosofi" berasal dari dua kata Yunani "philos" yang berarti kasih dan "sophia" yang berarti hikmat. Jadi secara harafiah bisa dikatakan bahwa filosofi adalah mengasihi hikmat. Oleh karenanya filsafat tidak selalu salah, tergantung filsafatnya, filsafat yang salah memang salah, filsafat yang benar tetap benar. Maka tidak bisa ter-gesa² membuat generalisasi semua filsafat haram sifatnya.

Setiap filosofi dengan sadar atau tidak akan dihidupi sebagai 'the way of life' oleh pemegangnya sehingga dengan sendirinya termanifestasi dalam setiap keputusan dan perilakunya. Maka dari itu betapa seharusnya membangun filosofi yang benar. Filosofi yang benar hanya jika dibangun atas dasar kebenaran sedang satu-satunya kebenaran adalah kitab suci. Jadi kitab suci adalah satu-satunya sumber sekaligus batu uji kebenaran filosofi. Dengan kata lain filosofi yang benar adalah filosofi yang alkitabiah.

Filosofi pelayanan. Ada dua filosofi pelayanan yang membingkai cara pandang dan cara kerja yang bersangkutan antara lain: hidup untuk melayani atau melayani untuk hidup. Dua-duanya sangat nyata ada dalam satu area atau dunia pelayanan. Filosofi yang pertama indah sekali yang kedua ngeri sekali, tanpa perlu penelitian sudah kasat mata bahwa yang berfilosofi pertama jumlahnya sedikit sekali sebaliknya yang kedua banyak sekali. Filosofi melayani untuk hidup jauh lebih mendominasi dan sangat mewarnai corak pelayanan kekinian meskipun tidak akan pernah mendapatkan daftar nama orang-orangnya. Panggilan, penyerahan, kerelaan, komitmen dan sejenisnya telah dijadikan bahan sinisan sedangkan pelayanan sebagai pencaharian bentuk lain yang sah dan alkitabiah telah ditahbiskan secara diam-diam, kebutuhan dan jaminan finansial dicengkeram sebagai alasan mengapa masih harus tetap bertahan di sana.

Yesus kritik keras dan pedas terhadap orang-orang Farisi sebagai ragi yang harus dihindari, sebagai ular beludak yang berbahaya karena kemunafikannya salah satunya memakai yang rohani untuk mendapatkan yang jasmani, memakai spiritual untuk mendapatkan finansial. Bukan hanya merusak citra pelayanan lebih dari pada itu merupakan perilaku yang lebih rendah dan lebih memilukan dari pada materialisme non kristen sekalipun yang hidup hanya untuk benda atau harta. Karena orang-orang materialisme tersebut yang hanya hidup untuk kerja, kerja untuk harta tidak pernah menggunakan yang rohani untuk mendapatkan yang jasmani.

Bagaimana kehidupan orang - orang yang masih berfilosofi hidup untuk melayani. Biasanya masih menghidupi sakralitas panggilan dan penyerahan diri dalam pelayanan. Mereka hidup belajar dari kerbau bajak, bagiannya sebagai sarana membajak sedang hidupnya menjadi bagian tanggungjawab gembalanya. Kerelaan dan penyerahan menjadi alasan mengapa masih berada di sana sambil memandang kedepan ketika Gembala Agung datang. Karena ketika Gembala Agung datang semua ada jawaban sehingga kalau terpaksanya tidak sempat bahagia di sini akan bahagia di sana.

Jadi marilah siapapun yang berada dalam area pelayanan tetap menjaga dan menghidupi filosofi hidup untuk melayani bukan melayani untuk hidup (Yis/200526)

Bijak Sehari-hari Menjadi Filsuf Diri Sendiri Terbaru
Daftar Kuliah